cara berkenalan yang baik dan benar
Tadi itu betul-betul emosional. Setiap huruf yang saya tulis selalu berhenti, tangan saya menengadah seakan bertanya. Semoga tulisan yang kedua ini lebih berarti (halah).
Omong-omong, hajimemashite digunakan di Jepang sebagai salam perkenalan. Pengennya ngga sok Jepang sih, tapi banyak kejadian di Indonesia saat saya pertama bertemu dengan orang - atau bertemu dengan teman yang sedang bersama orang - atau bertemu dengan orang yang sedang bersama teman - dan anehnya (untuk saya) pada saat-saat ini saya tidak diperkenalkan dengan orang tersebut. Sensitif? Mungkin. Di Indonesia, kalau saya punya kesempatan berkenalan dengan orang lain, mungkin saya hanya berkata, "Panji" sambil bersalaman, atau "Panji" dengan suara yang lemah, buru-buru, bersalaman, lalu mengalihkan pandangan (bukan melengos sih) dan pembicaraan. Jadi bertanya-tanya, sebenarnya cara berkenalan yang baik bagaimana ya?
Di negeri yang sedang saya diami ini, perkenalan dimulai dengan satu kata, "hajimemashite".
#nanti saya coba cari arti sebenarnya. Di internet banyak kamus online, tetapi arti dari dalam hati yang paling dalam (apa coba) hanya bisa didapatkan dari pembicaraan yang dalam kan?
Dengan bantuan satu kata ini, ada waktu 1-2 detik saat saya bisa berpikir dulu dan mulai mengarang-ngarang cerita tentang siapa sebenarnya saya. Lumayan. Meski pada akhirnya tetap saja sulit mengingat nama yang tidak lazim, tapi ada cerita -sedikit, sedikiiit sekali- tentang kita dan orang yang diajak berkenalan.
Jadi, hajimemashita. Nama saya Pandji Prawisudha, bapak-ibu-saudara-anda-ente boleh memanggil saya Panji… ya pa-n-ji-. Usia 28 tahun, jenis kelamin lelaki,
#kenapa bahasa Inggrisnya jenis kelamin jadi sex ya? katanya pernah ada yang ngisi di form imigrasi jawabnya ‘twice a week’… kenapa bukan ditulis gender atau sesuatu yang lebih ‘mudah’ dijawab?
menikah dengan istri yang cantik dan baik hati, Selly Meliana, punya anak satu lelaki bernama Aradea Amaram Amodya, yang… wah sulit diungkapkan dengan kata-kata deh. Saat ini tinggal di pinggiran Yokohama, sedang mengadu nasib jadi mahasiswa (lagi??) demi mewujudkan cita-cita, untuk sementara anak dan istri masih di rumah kami di Padalarang, Bandung. Lebih jelasnya bisa dilihat di sini.